Home » , » Renungan Dan Penelitian Kata Insya Allah

Renungan Dan Penelitian Kata Insya Allah

Trimuda Reog | 00.29 | 4komentar
Makna Insya allah
Sudah lama saya mencermati ungkapan INSYAALLAH yang sangat sering digunakan baik dalam bahasa tutur maupun tulis. Ungkapan ini dipakai karena si penutur tak ingin ‘melangkahi’ kehendak Tuhan.

“Kalau Allah menghendaki, saya datang,” begitu kira-kira maksudnya.

Bahkan, saya perhatikan, saat dilantik sebagai presiden Republik Indonesia, Jenderal Soeharto selalu pakai ungkapan ini: INSYAALLAH.

“Apakah Saudara Soeharto siap dilantik sebagai presiden Republik Indonesia?” tanya ketua Mahkamah Agung.

“Insyaallah!” jawab Soeharto.

Meskipun tentara sejati, jenderal tulen, Pak Harto tidak bilang SIAP, YA, LAKSANAKAN, dan sejenisnya. Di Jawa Timur, INSYAALLAH ini bisa kita dengar dalam percakapan mulai dari warung-warung kopi, restoran, hotel bintang lima, kantor media, hingga televisi.

Pertanyaannya, bagaimana penulisan INSYAALLAH yang benar menurut ejaan standar bahasa Indonesia? Ada beberapa versi:

Insyaallah (dirangkai)
InsyaAllah (dirangkai, Allah pakai A besar)
Insya Allah (paling banyak dipakai di Indonesia saat ini)
Insyallah (biasa dipakai politisi Partai Keadilan Sejahtera)


Kemarin, saya membaca lima koran dan satu tabloid hiburan. Saya menemui banyak ungkapan INSYAALLAH, maklum bulan RAMADAN (bukan RAMADHAN, bukan RAMADLAN, bukan RAMADHON, bukan RAMADLON, bukan ROMADLON, bukan ROMADHLON....).

Di majalah dan surat kabar di Indonesia, cara menulis INSYAALLAH memang berbeda-beda satu sama lain. Bahkan, di surat kabar yang sama penulisan INSYAALLAH berbeda di halaman 1, halaman 4, halaman 10, dan seterusnya. Apalagi bila surat kabar itu tidak punya copy editor atau penyunting bahasa yang berkualitas.

Mana yang standar?

Frase serapan bahasa Arab ini sebetulnya sudah dibahas JS Badudu, ahli bahasa Indonesia, pada tahun 1980-an. Tapi, seperti biasa, orang Indonesia sangat mudah lupa. Ingatan orang Indonesia memang pendek. Bahkan, terlalu banyak orang Indonesia yang kurang memperhatikan tata bahasa, morfologi, sintaksis, hingga ejaan standar.

Termasuk orang-orang yang seharusnya menjadi panutan macam guru, dosen, profesor, peneliti. Janganlah ditiru gaya bahasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memang sangat suka bersolek dengan ungkapan-ungkapan bahasa Inggris yang sudah ada padanan dalam bahasa Indonesia.

Nah, saya sendiri ingat betul uraian Jus Badudu meskipun buku lama terbitan Alumni Bandung milik saya itu sudah lama hilang. Menurut Pak Badudu, interjeksi serapan dari bahasa Arab itu HARUS ditulis serangkai. Tidak dipisahkan. Dan itu tak hanya berlaku untuk INSYAALLAH, tapi juga interjeksi-interjeksi sejenis.

Beginilah penulisan yang benar itu:

insyaallah BUKAN insya Allah BUKAN insyaAllah.


(Jika dipakai di awal kalimat, tentu saja ditulis misalnya: “Insyaallah, Indonesia ikut Piala Dunia!”

masyaallah BUKAN masya Allah
subhahanallah BUKAN subhahana Allah
alhamdulillah BUKAN alhamduli Allah



Sering saya mendengar ungkapan menggelikan dari beberapa mahasiswa dan aktivis gereja, khususnya Gereja Katolik, di Surabaya. Hanya karena mencoba menghindari kata ALLAH (di Malaysia bisa diproses hukum, karena kata ALLAH tak boleh digunakan warga non-Islam!), maka beberapa dari mereka menggunakan ungkapan INSYA TUHAN. Hehehe....

Sejak kapan ada ungkapan INSYA TUHAN atau INSYA DEWA?

Hehehe.... Ada-ada saja!

Saya pernah menjelaskan secara panjang lebar kepada Anggraeni, mahasiswi Universitas Bhayangkara Surabaya, yang beragama Katolik. Cewek yang tinggal di Sidoarjo ini selalu menggunakan ungkapan INSYA TUHAN dalam kalimat tuturnya meskipun, saya tahu, ada nuansa guyon atawa informal khas remaja.

“Dalam bahasa Indonesia kita tidak kenal istilah INSYA TUHAN. Yang benar hanya INSYAALLAH. Dan ungkapan itu boleh dipakai semua orang Indonesia, apa pun agamanya,” kata saya menirukan penjelasan Pak Badudu, pakar bahasa yang saya kagumi itu.

“Lantas, bagaimana ucapan INSYAALLAH yang benar?”

“Harus mengikuti logat Arab karena INSYAALLAH ini termasuk serapan utuh.”

Mudah-mudahan Anggareni dan kawan-kawan tidak membuat pelesetan yang tidak perlu seperti MASYA TUHAN. 



{sumber}
Share this article :

4 komentar:

  1. nice article gan, met kenal aja.

    BalasHapus
  2. Wah....artikel ini sangat membantu, banyak orang tidak memahami apa makna dibalik kalimat "INSYA ALLAH"......thenks sob.

    salam sukses....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya gan semoga jadi referensi...

      Hapus

Tinggalkan Jejak Dengan Berkomentar ya! Terimakasih

Daftar Kategori


close
cbox
 
Alamat: Talun | Ngebel | Ponorogo
Copyright © 2011. PUISI DAN PENDIDIKAN - All Rights Reserved
Template Modify by Cah Ngebel
Proudly powered by Blogger