Home » » Makna Besar Dibalik "Insya Allah"

Makna Besar Dibalik "Insya Allah"

Trimuda Reog | 00.16 | 2komentar
Makna Agung kata 'Insya Allah'. Jangan Sembarangan Mengucapkannya, harus hati-hati dalam mengucapkannya.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.
Dalam buku Asbabun Nuzul yang disusun oleh KH Q Shaleh dkk (1995) menukil riwayat mengenai asbabun nuzul (sebab turun) surah al-Kahfi ayat 23-24. "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan
tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan
mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut); 'Insya Allah'...." (QS al-Kahfi
[16]:23-24).

Suatu hari,
kaum Quraisy mengutus an-Nadlr bin
al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad. Lalu, kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad. Lalu, pendeta Yahudi berkata, "Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia Nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi.

Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka.

Kedua, tanyakan juga tentang seorang
pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya.

Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh."

Pulanglah utusan itu kepada kaum Quraisy. Lalu, mereka berangkat menemui Rasulullah SAW dan
menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok." Rasul menyatakan itu tanpa disertai kalimat "insya Allah". Rasulullah SAW menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi SAW karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insya Allah". (QS al-
Kahfi [18]:23-24).

Dalam kesempatan ini, Jibril juga menyampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni
Ashabul Kahfi (18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (18:83-101); dan perkara roh (17:85).

Mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Kitab
Jaami'ul Bayan menjelaskan, "Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah SWT. Sungguh agung makna kata "insya Allah" itu. Di dalamnya dikandung makna paling tidak empat hal.

Pertama, manusia memiliki ketergantungan
yang tinggi atas rencana dan ketentuan Allah (tauhid).

Kedua, menghindari kesombongan
karena kesuksesan yang dicapai (politik, kekayaan, keilmuan, dan status sosial.)

Ketiga,
menunjukkan ketawaduan (keterbatasan diri untuk melakukan sesuatu) di hadapan manusia dan Allah SWT.

Keempat, bermakna optimisme akan hari esok yang lebih baik.

Bagaimana jika kata "insya Allah" dijadikan
tameng untuk memerdaya manusia atau dalih untuk melepaskan diri dari tanggung jawab ??

Sesungguhnya kita telah melakukan dua dosa.
Pertama, menipu karena menggunakan zat-Nya.

Kedua, kita telah menipu diri kita sendiri

karena sesungguhnya kita enggan menepatinya, kecuali sekadar menjaga hubungan baik semata dengan
rekan, kawan, atau relasi.

Wallahu a'lam.

Tulisan ini dimuat di Republika cetak dengan judul Makna Insya Allah ...
Share this article :

2 komentar:

  1. paling suka dengan item yang kedua, menghindari diri dari kesombongan yang dicapai.

    lewat posting ini sob, ane mo ucapin "selamat menyambut Bulan Suci Ramadhan". mohon maaf jika ada salah dan khilaf....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sobat... selamat menyambut bulan suci juga.

      Hapus

Tinggalkan Jejak Dengan Berkomentar ya! Terimakasih

Daftar Kategori


close
cbox
 
Alamat: Talun | Ngebel | Ponorogo
Copyright © 2011. PUISI DAN PENDIDIKAN - All Rights Reserved
Template Modify by Cah Ngebel
Proudly powered by Blogger