Home » » Alasan Polisi Sulit Ungkap Penyerbuan Lapas

Alasan Polisi Sulit Ungkap Penyerbuan Lapas

Trimuda Reog | 08.09 | 0 komentar

Kepolisian hingga kini terus memantau penyelidikan kasus penyerbuan ke Lapas Cebongan yang menewaskan empat tahanan pada Sabtu (23/3) lalu. Namun Mabes Polri pun mengaku kesulitan untuk mengusut kasus ini.

Menurut Karo Penmas Mabes Polri Brigjend Pol Boy Rafli Amar proses pengungkapan kasus tersebut tidaklah mudah. Saat penyidik sedang mengumpulkan fakta agar lebih akurat untuk mengungkap siapa para pelaku penembakan tersebut.

"Jadi pekerjaan ini tidak mudah, kumpulan fakta yang lebih akurat lagi," ujar Boy.

Cara kerja kelompok penyerbu memang tergolong sangat rapi. Butuh keahlian dan ketrampilan khusus untuk bisa melakukan penyerbuan tersebut. Para pelaku juga tidak meninggalkan jejak saat beraksi. 

Berikut lima alasan polisi sulit mengungkap kasus penyerbuan ke Lapas Cebongan, Sleman:

1. Pelaku gunakan skebo
Kepolisian Daerah DIY menyebutkan ciri-ciri pelaku penyerbuan Lapas Cebongan, Sleman. Pelaku menggunakan skebo atau penutup wajah, rompi warna hitam, sepatu kets berwarna hitam dan sepatu panjang PDL (pakaian dinas lapangan, red) dan celana jeans warna biru dan hitam.
"Belum mengarah ke sana. Yang jelas kita masih pendalaman, yang jelas sepatu PDL, hitam panjang," terang Kepala Bidang Humas (Kabid Humas) Polda DIY AKBP Anny Pudjiastuti, Senin (25/03).
Saat kejadian berlangsung, terdapat 35 napi, termasuk 4 korban tewas yang berada di blok A5.
"Mereka diletakkan dalam satu sel," jelas Anny.

2. Pelaku rusak CCTV Lapas
Serangan 17 orang bersenjata AK-47 dan bercadar di Lapas Cebongan, Sleman, DIY menewaskan empat orang tahanan. Untuk menutupi jejaknya, para pelaku juga membawa kabur Closed Circuit Television (CCTV).

Mereka kemudian masuk ke lapas dan mencari empat pelaku penganiayaan anggota Kopassus, TNI AD. Mereka memaksa petugas lapas atau sipir menunjukkan empat tahanan titipan polisi tersebut. Kelompok penyerang itu langsung menembak mati empat tahanan tersebut.

"Kita sulit ungkap karena CCTV dirusak dan dibawa para pelaku," ujar Kabid Humas Polda DIY AKBP Anny Pudjiastuti, Senin (25/03).

3. Saksi penyerbuan tewas semua
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menjelaskan perbedaan antara kasus penyerangan TNI di Polres Ogan Komelir Ulu (OKU) dan Lapas Cebongan, Sleman. Menurutnya, pada penyerangan di OKU pihak TNI sudah menemukan para pelaku yang ikut dalam aksi terekam jelas dalam kamera.

Namun penyerangan yang terjadi di dalam Lapas hingga menewaskan empat orang tahanan sampai saat ini masih gelap. Terlebih, saksi-saksi yang menyaksikan penembakan itu seluruhnya tewas di lokasi kejadian.

"Ini bagaimana, kita juga tidak tahu, saksinya pada mati semua begitu, ditanya bagaimana? Saya tidak boleh mendahului, nanti jadi tuduhan dong," ujar Pramono Edhie.

Hal yang sama juga diakui kepolisian. Penyelidikan kasus penyerbuan tersebut sulit diungkap lantaran tidak ada saksi dan CCTV dibawa para pelaku.

4. Jenderal TNI lindungi anak buahnya
Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana menduga, pelaku penyerbuan ke Lapas Cebongan dilakukan oleh anggota TNI. Bahkan Denny menduga para pelaku adalah anggota Kopassus.

"Saya bertemu Pak Djoko, ada salah satu dugaan terkait dengan jajaran di TNI pelakunya, karena insiden sebelumnya ada Kopassus yang meninggal," kata Denny dalam jumpa pers di kantor Kemenkum HAM, Jakarta, Sabtu (23/3) lalu.

Denny mengatakan, kondisi itu pula yang membuat petugas Lapas untuk tidak juga menggunakan senjata. "Sebenarnya senjata ada, tapi kalau ada situasi semacam ini dan melihat siapa yang dihadapi, tidak mudah untuk menggunakan senjata," kata Denny.

Namun sejurus kemudian para jenderal dan petinggi TNI langsung membantahnya. Tanpa proses penyelidikan, para Jenderal TNI langsung mematahkan hipotesa Denny. 

"Tidak ada hubungannya dengan Kopassus, tidak ada," ujar Panglima Kodam IV/ Diponegoro Mayjen TNI Hardiono Saroso.

5. Ada kekuatan besar yang intervensi polisi
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD ikut nimbrung soal kasus penyerangan Lapas Cebongan. Mahfud menyebut ada kekuatan besar di balik kasus tersebut jika polisi tidak dapat mengungkap siapa pelaku penyerangan tersebut.

"Bisa saja kasus itu tidak ditemukan pelakunya. Kalau hal itu terjadi, maka ada kekuatan besar yang mengintervensi Polri," ujar Mahfud di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (26/3).

Mahfud mengatakan, kekuatan besar yang ada di balik penyerangan tersebut sangat berbahaya bagi negara. "Artinya, kekuatan negara takluk oleh sekelompok orang dan itu tidak baik bagi penegakan hukum," terang dia.

Share this article :

14 0 komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Jejak Dengan Berkomentar ya! Terimakasih

Daftar Kategori


close
cbox
 
Alamat: Talun | Ngebel | Ponorogo
Copyright © 2011. PUISI DAN PENDIDIKAN - All Rights Reserved
Template Modify by Cah Ngebel
Proudly powered by Blogger